Ahad, 12 Juli 2020

finansial


Buang Dolar Mahathir Masih Wacana, Pasar Ini Sudah Mulai ‘Buang’ Rupiah

Pengunjung yang datang ke pasar ini dianjurkan untuk menukarkan uang rupiahnya dengan dinar dan dirham yang disediakan oleh panitia. Setelah itu, pengunjung dapat bertransaksi dengan menggunakan dinar dan dirham tersebut.

putra dirgantara 2020-02-04
buang dolar

Ilustrasi muamalah yang sedang berlangsung di pasar muamalah. (Foto: IG @muamalah_tangerang)

GARDA NASIONAL, JAKARTA — Wacana dedolarisasi atau gerakan buang dolar semakin urgen untuk diterapkan saat ini. Selain mempunyai dasar yang sangat kuat, wacana tersebut juga tidak mustahil untuk diterapkan di seluruh negara di dunia.



Dedolarisasi dan penggunaan kembali dinar dirham merupakan isu yang sangat progresif dan digadang-gadang dapat menjadi solusi alternatif bagi permasalahan ekonomi di dunia Islam. Meskipun wacana ini telah bergulir cukup lama, namun masih belum menjadi kebijakan politik resmi negara-negara pendukungnya.



Hal ini sangat disayangkan karena kebutuhan umat Islam akan sistem perekonomian alternatif antiriba sudah sangat mendesak untuk diterapkan. Umat Islam sudah sangat lama merindukan sistem ekonomi yang sesuai syari’ah dan keluar dari jeratan sistem ekonomi ribawi yang menindas dan memperbudak mereka.





Dilansir dari tintasiyasi.com (02/01), wacana dedolarisasi sebenarnya sudah ada sejak 2009 karena ketergantungan terhadap dolar AS dinilai tidak baik bagi perekonomian dunia. Gagasan dedolarisasi muncul sebagai jawaban atas dominasi dolar AS dan upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS tersebut.



Namun, bertolak-belakang dengan lambannya para elit politik di dunia Islam dalam mengadopsi konsep dedolarisasi, sebagian umat Islam akar rumput di Indonesia justru sudah mulai merintis gerakan dedolarisasi tersebut dengan mengadakan pasar-pasar muamalah di berbagai lokasi di seluruh Indonesia.



Pasar-pasar muamalah yang diinisiasi oleh Baitul Mal Nusantara ini menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari seperti sembako, pakaian, perlengkapan muslim dan bahkan barang elektronik juga diperjuabelikan di pasar ini.





Menariknya, transaksi yang berlangsung di pasar ini menggunakan dinar emas dan dirham perak sebagai alat tukarnya.



Pengunjung yang datang ke pasar ini dianjurkan untuk menukarkan uang rupiahnya dengan dinar dan dirham yang disediakan oleh panitia. Setelah itu, pengunjung dapat bertransaksi dengan menggunakan dinar dan dirham tersebut.



Muamalah yang terjadi di pasar muamalah tersebut mengikuti teladan di zaman nabi di mana pasar diselenggarakan tanpa sewa, tanpa pajak dan menggunakan dinar dan dirham dalam transaksinya.





Dengan demikian, penggunaan dinar dan dirham seolah-olah telah ‘mencampakkan’ atau ‘membuang’ rupiah sebagai alat tukar resminya. Ini adalah perkembangan yang sangat progresif bagi perekonomian umat Islam.



Hal ini disebabkan karena sistem uang fiat atau uang kertas adalah sistem yang batil dan banyak mengandung mudharat bagi umat Islam. Jika penyelenggaraan pasar muamalah ini terus diperluas dan diadakan secara rutin, maka insya Allah hal ini akan berdampak positif bagi pembangunan ekonomi umat.



Jadi, tanpa komando dari elit politik pun umat Islam sudah memulai gerakan untuk meninggalkan riba dan bermuamalah sesuai syari’ah. Hal ini membuat kita bertanya-tanya di dalam hati: mau sampai kapan para penguasa tersebut mempertahankan sistem yang batil tersebut dan terus berwacana tanpa tindakan yang nyata?



(pdlabs)



Tags

Leave a Comment



berita dunia islam terbaru