Jumat, 3 April 2026

opini


Kecurangan Pemilu: Senjakala Negara Demokrasi

Inilah ilusi negara demokrasi di mana rakyat selalu tertindas dengan kehidupan yang semakin sulit, biaya hidup yang semakin mahal, inflasi yang merampok kekayaan dan rakyat semakin tercekik oleh utang luar negeri ribawi yang semakin menggunung.

putra dirgantara 2019-04-25
kecurangan pemilu 2019

Democracy is a failed system.

GARDA NASIONAL, JAKARTA - Kecurangan pemilu yang terus terjadi telah membuktikan batilnya sistem demokrasi. Pemilu yang diharapkan akan melahirkan pemimpin yang adil justru hanya mempertontonkan kecurangan penguasa yang semakin memuakkan rakyat. Inilah ironisme negara demokrasi: bagaimana rakyat dapat memperoleh pemimpin yang adil melalui kecurangan yg terjadi secara massif dan sistematis?



Kecurangan yang terjadi pada setiap penyelenggaraan pemilu adalah bukti batilnya sistem demokrasi yang dengan pongahnya meletakkan kedaulatan berada di tangan rakyat. Padahal, kedaulatan hanyalah milik Allah SWT dan sudah seharusnya kedaulatan Allah dijunjung setinggi-tingginya dalam penyelenggaraan pemerintahan manapun.



Sistem demokrasi yang lahir sebagai hasil pemikiran akal manusia tentu saja memiliki cacat cela dan tidak bisa dibandingkan dengan hukum syariah yang berasal dari wahyu ilahi. Sistem yang batil tersebut pada akhirnya hanya akan menciptakan ketidakadilan dan melanggengkan kedzaliman sehingga rakyat akan selalu ditindas dan ditipu melalui berbagai kecurangan yang dilakukan oleh penguasa.



Melalui berbagai pengalaman penyelenggaraan pemilu sudah terbukti bahwa penguasa selalu berada di balik kecurangan pemilu untuk mempertahankan pengaruh dan kekuasaannya. Sementara rakyat yang bodoh selalu tertipu dengan janji dan iming-iming kesejahteraan selama kampanye. Padahal, kesejahteraan yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang dan tidak pernah terwujud.



Inilah ilusi negara demokrasi di mana rakyat selalu tertindas dengan kehidupan yang semakin sulit, biaya hidup yang semakin mahal, inflasi yang merampok kekayaan dan rakyat semakin tercekik oleh utang luar negeri ribawi yang semakin menggunung karena dibebankan kepada rakyat secara dzalim melalui pajak dan sistem negara fiskal.



Pada akhirnya, akan lahir ketidakpuasan di hati rakyat karena menyadari selalu ditipu oleh sistem yang batil. Rakyat akan menyadari bahwa demokrasi adalah sistem yang melanggengkan kekuasaan thagut. Rakyat akan sadar bahwa selama ini mereka beribadah kepada sistem thagut yang menghalalkan yang haram (riba dan khamr) dan mengharamkan yang halal (dinar dan dirham).



Ketika rakyat semakin sadar bahwa demokrasi adalah sistem thagut yang melanggengkan kekuasaan thagut, maka pada saat itulah lonceng kematian negara demokrasi mulai bergaung. Pada akhirnya, rakyat akan mulai berpikir untuk menggantikannya dengan sistem yang sesuai dengan syariah yang melindungi kehormatan dan kesejahteraan segenap rakyat dengan seadil-adilnya.



Inilah masa-masa senjakala negara demokrasi yang akan segera runtuh dan masuk ke dalam keranjang sampah sejarah dengan izin Allah SWT, insya Allah.



Putra Dirgantara



Disclaimer: Artikel opini tidak mewakili atau menggambarkan pandangan resmi GARDANASIONAL.COM sehingga GARDANASIONAL.COM tidak bertanggung-jawab atas validitas artikel tersebut. Penulis artikel opini tersebut bertanggung-jawab sepenuhnya terhadap penulisan dan penerbitan artikel tersebut.



Leave a Comment




berita dunia islam terbaru