dirgantara
Pesawat N-219 Indonesia Berhasil dalam Penerbangan Ujicoba Perdana
Ratusan insinyur dan teknisi menyambut pesawat 19 kursi tersebut saat mendarat dengan mulus. Itu adalah momen emosional bagi beberapa dari mereka, termasuk kepala insinyur N-219 PT DI, Palmana Bhanandhi, yang menangis.
Sebuah pesawat N-219 yang dipiloti oleh Kapten Esther Gayatri berangkat dalam penerbangan ujicoba di Bandara Internasional Husein Sastranegara di Bandung pada 17 Agustus. (JP / Arya Dipa)
Garda Nasional, Jakarta - Pesawat N-219 buatan Indonesia berhasil mendarat di Bandara Internasional Husein Sastranegara di Bandung setelah melakukan 30 menit penerbangan ujicoba pada hari Rabu.
Selama uji coba, pesawat tersebut dipiloti oleh pimpinan pilot uji coba perusahaan pesawat terbang milik negara PT Dirgantara Indonesia (DI), Kapten Esther Gayatri Saleh, dan Kapten Adi Budi Atmoko.
Ratusan insinyur dan teknisi menyambut pesawat 19 kursi tersebut saat mendarat dengan mulus. Itu adalah momen emosional bagi beberapa dari mereka, termasuk kepala insinyur N-219 PT DI, Palmana Bhanandhi, yang menangis.
Dua puluh dua tahun yang lalu, sebuah pesawat bermesin kembar N-250 berkapasitas 50 penumpang, yang juga diproduksi oleh PT DI, berhasil dalam uji terbangnya.
"Perbedaannya adalah bahwa pada saat itu, pejabat tinggi menghadiri acara tersebut, sementara karyawan mengawasi pendaratan dari kejauhan," kata staf ahli pengembangan pesawat PT. DI Andi Alisjahbana.
Direktur Utama PT. DI Budi Santoso menjelaskan bahwa pesawat tersebut merupakan pesawat ketiga dari empat pesawat N-219 yang dikembangkan oleh perusahaan tersebut. Dua pesawat, katanya, akan menjalani uji coba di mana keduanya merupakan purwarupa.
"Kami butuh 300 jam penerbangan. Tes hari ini hanya 30 menit. Kami berharap pesawat terbang bisa menghubungkan orang-orang di daerah terpencil, "kata Budi, menambahkan bahwa pesawat tersebut merupakan hadiah untuk Hari Kemerdekaan RI ke-72 pada hari Kamis.
Proyek tersebut, katanya, menghabiskan biaya 62 juta dolar AS. "Kami masih membutuhkan dana tambahan sebesar Rp 200 miliar (14,95 juta dolar AS) untuk memasukkan pesawat ke dalam produksi." (Bbn)
(Arya Dipa - The Jakarta Post)
n 219

