Kamis, 21 Oktober 2021

nasional


Konferensi Meja Bundar: Membeli Kemerdekaan dengan Utang Kolonial

Konferensi Meja Bundar adalah babak baru penjajahan terhadap bangsa Indonesia. Hanya bentuknya saja yang berubah, tapi sejatinya kita masih terjajah. Namun, kali ini dalam bentuk jerat utang kolonial yang tidak seharusnya ditanggung oleh bangsa Indonesia.

putra dirgantara 2020-08-22
konferensi meja bundar

Ilustrasi konferensi meja bundar di Den Haag, Belanda pada 1949. (Foto: Wikipedia bahasa Indonesia)

GARDANASIONAL.COM, JAKARTA — Konferensi Meja Bundar adalah babak baru penjajahan terhadap bangsa Indonesia. Hanya bentuknya saja yang berubah, tapi sejatinya kita masih terjajah, kawan. Namun, kali ini dalam bentuk jerat utang kolonial yang tidak seharusnya ditanggung oleh bangsa Indonesia.



Syarat pembebanan utang kolonial tersebut dipaksakan oleh negara-negara barat kepada wakil-wakil Indonesia pada Konferensi Meja Bundar yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda. Ini sama saja dengan menggeser bentuk penjajahan, kawan, dari penjajahan fisik digeser sedikit menjadi penjajahan ekonomi.



Bentuknya berbeda, tapi intinya sama saja, kawan. Mereka ingin tetap melakukan eksploitasi terhadap bangsa Indonesia, menghisap darah rakyat Indonesia sehabis-habisnya, lalu tertawa terbahak-bahak di atas penderitaan bangsa Indonesia. Lalu, mengapa ini sampai terjadi, kawan? 



Mereka melakukan pembantaian terhadap rakyat kita, lalu mengapa kita yang harus membayar biaya pembantaiannya? Kenyataannya, para petinggi republik ini hanya bisa menuruti kehendak para penjajah, kawan. Mereka bilang, itu adalah harga yang harus dibayar jika bangsa Indonesia ingin merdeka.



Bukannya menolak segala bentuk prasyarat kemerdekaan yang menghinakan bangsa kita, orang-orang yang mengaku pemimpin bangsa Indonesia ini malah bertekuk-lutut di hadapan kekuatan neoliberalisme dan neokapitalisme yang sedang mencengkeram dunia saat ini dan saat itu.



Manakala pemimpin kehilangan 'izzah dan harga diri di hadapan wajah para penjajah, maka rakyatlah yang menjadi korban, kawan. Dihinakan kaum durjana dan dikadali oleh antek-antek asing berwajah pribumi. Bukankah membayar biaya pembantaian rakyat sendiri sudah cukup menghinakan negeri ini?



Apakah itu sudah cukup buruk? Belum kawan! Masih ada lagi yang lebih buruk, yaitu ketika para pemimpin negeri ini dengan bangga menjalankan sistem zalim peninggalan para penjajah, sistem yang membuat negara selalu terjerat utang laknat dan rakyat harus selalu membayarnya dengan keringat.



Inilah yang disebut sistem negara fiskal, kawan, yang sedang dan terus dijalankan oleh para petinggi republik ini, sejak proklamasi kemerdekaan bahkan hingga saat ini. Suatu sistem di mana ekonomi dibangun dengan anggaran belanja berbasis utang berbunga haram jadah, yang harus dibayar rakyat melalui pajak.



Sejarah mencatat, tentara-tentara penjajah boleh saja angkat kaki dari negeri ini. Tapi warisannya lestari, subur disemai antek-antek asing berwajah pribumi. Maka jangan heran, kawan, jika sekian bulan sekian tahun utang semakin menggunung dan kita terus diperas dengan pajak berlipat-lipat.



Jadi, inilah negeri hasil perjuangan orang-orang pribumi berotak pintar, kawan. Orang-orang pribumi yang bersekolah di barat, di sekolah-sekolah kosmopolitan, yang kita anggap sebagai pahlawan. Kita elu-elukan mereka sepanjang sejarah, karena berotak Leiden, Amsterdam, Rotterdam dan kota-kota megah lainnya.



Namun kita lengah dan lalai, kawan, karena mereka mewarisi pendidikan barat. Kepala mereka penuh dengan pemikiran barat, menjunjung tinggi kaidah-kaidah laknat dan melarikan rakyat jauh-jauh dari syariat. 



Lantas, tunas pemikiran itu tumbuh subur, tersebar di seantero negeri, kawan. Ironisnya, era tersemainya pemikiran itulah yang kita banggakan sebagai masa pergerakan, padahal hanya sejurus perang pemikiran. 



Ketika rakyat berdarah-darah di medan jihad, berjibaku dengan gema takbir, membebaskan negeri dari penjajah, mereka datang di meja bundar, berpakaian necis, layaknya gaya berpakaian penjajah yang sedang mereka perangi.



Generasi yang pikirannya teracuni, tersengat oleh sekularisme, materialisme, kapitalisme, liberalisme dan demokrasi memang tidak bisa diharapkan untuk membela negeri dengan 'izzah, dengan jihad fi sabilillah, kawan.



Maka, coba tebak apa yang mereka lakukan di meja bundar? Tepat sekali, kawan, mereka membeli kemerdekaan dengan menerima saja dibebankan utang kolonial, utang yang tidak pernah pantas untuk dibayar, apalagi ditawar. 



Hari-hari ini, bulan kemerdekaan ini, sudah selayaknya kita peringati tanpa rasa merdeka, karena leher-leher kita masih terjerat, betis-betis kita masih terbelit. Tidak hanya oleh utang ribawi yang terus menggunung, tapi juga oleh sistem zalim yang terus menindas, sistem warisan orang-orang yang duduk di meja bundar itu.



(pdlabs)



Leave a Comment



euforia emas
berita dunia islam terbaru