Kamis, 21 Oktober 2021

nasional


Berulang-kali Dikhianati Rezim Korup: Wahai Umat Islam, Kapokmu Kapan?

Berulang-kali dikhianati oleh rezim korup produk demokrasi, tidak membuat umat Islam kapok dan meninggalkan sistem yang batil dan zalim ini. Bahkan umat Islam malah terlena dengan sistem warisan penjajah Belanda tersebut.

putra dirgantara 2020-12-23
rezim korup

Ilustrasi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Kuningan. (Foto: Wikimedia Commons)

GARDANASIONAL.COM, JAKARTA — Berulang-kali dikhianati oleh rezim korup produk demokrasi, tidak membuat umat Islam kapok dan meninggalkan sistem yang batil dan zalim ini. Bahkan umat Islam malah terlena dengan sistem warisan penjajah Belanda tersebut.



Meskipun Komisi Pemberantasan Korupsi telah bertahun-tahun didirikan, namun tidak membuat korupsi hapus dari bumi nusantara ini. Sifat koruptif seolah dianggap biasa dan bahkan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bangsa ini.



Sejak pertama kali didirikan, KPK telah banyak membuat gebrakan dalam penegakan hukum terhadap para pejabat korup yang terus melakukan korupsi, mulai dari anggota DPR, pejabat pemerintah, bahkan para penegak hukum pernah menjadi korban dari sepak terjang KPK.



Namun, puluhan tahun berlalu, korupsi masih saja terus terjadi bahkan sampai saat ini. Dalam bulan-bulan penghujung tahun 2020 publik dikejuttkan (lagi?) oleh dua kasus korupsi yang dilakukan oleh dua orang menteri, yaitu Edhy Prabowo dan Juliari Batubara.



Dilansir dari JawaPos (5/12), Edhy Prabowo, Menteri Kelautan dan Perikanan, ditangkap oleh KPK dalam kasus dugaan korupsi ekspor benih lobster atau benur. 



Menurut KPK, Edhy Prabowo ditangkap karena adanya dugaan tindak pidana korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji oleh Penyelenggara Negara terkait dengan perizinan tambak, usaha dan atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020.



Sementara itu, Juliari Batubara, Menteri Sosial, diduga menerima hadiah atau janji dari para vendor Bansos di Kemensos RI dalam penanganan pandemic Covid-19. Menurut KPK, Juliari memotong Rp 10 ribu untuk setiap paket pengadaan Bansos Covid-19 seharga Rp 300 ribu.



“Mereka sudah dibawa ke gedung merah putih untuk pemeriksaan,” ujar Ketua KPK, Firli Bahuri.



Kenyataan ini membuat miris karena kedua pejabat korup produk dari demokrasi tersebut telah berkhianat kepada rakyat Indonesia, khususnya umat Islam. Lebih dari itu, kenyataan ini membuktikan bahwa penanggulangan korupsi tidak pernah berhasil dilakukan oleh rezim demokrasi.



Hal ini disebabkan karena penanganan korupsi yang telah dilakukan tidak menyentuh akar persoalan, yaitu tidak tegaknya syariah Islam di bumi nusantara.



Sistem demokrasi yang diberlakukan di negeri ini secara alami memang membuka banyak sekali celah korupsi di sana-sini karena pada kenyataannya demokrasi adalah sistem berbiaya besar di mana para pelakunya mau tidak mau harus mengembalikan modal yang telah ia keluarkan ketika telah berhasil menjadi pejabat atau penguasa melalui sistem berbiaya besar tersebut.



Di sisi lain, penegakkan hukum pada sistem demokrasi tidak menimbulkan efek jera sama sekali karena hukuman yang diberikan bukanlah hukum yang berat. Berdasarkan kitab hukum buatan manusia tersebut, pelaku korupsi cukup diberikan hukuman penjara sekian tahun dengan segala ekslusivitas dan kemewahan penjara yang bisa diatur seenaknya dengan menyuap sipir penjara.



Sementara itu, penegakkan pemerintahan dan syariah Islam akan membawa umat Islam pada penghapusan korupsi sampai ke akar-akarnya. Hal ini disebabkan karena penegakkan pemerintahan Islam tidak berbiaya besar dan penegakkan syariah Islam akan menimbulkan efek jera karena hukum syariah adalah hukum yang sangat berat dan tegas dan berasal dari Allah Subhanahu wata'ala.



Maka dari itu, sudah saatnya umat Islam kapok memakai hukum buatan manusia yang batil, zalim dan tidak dapat menghapus korupsi secara menyeluruh sampai ke akar-akarnya. Sangatlah urgen bagi umat Islam untuk kembali kepada Islam, kembali menegakkan pemerintahan dan syariah Islam dan berlepas diri dari sistem batil buatan manusia untuk meraih ridho Allah Subhanahu wata'ala, baik di dunia maupun di akhirat kelak.



(pdlabs)



Leave a Comment



euforia emas
berita dunia islam terbaru