Senin, 27 April 2026

afghanistan


Hasil Pemilu Boneka Afghanistan Diperselisihkan

Pada pemilu boneka tersebut, Ashraf Ghani mengamankan 50,64% suara, sedangkan Dr. Abdullah Abdullah memperoleh 39,52% suara. Dr. Abdullah Abdullah menolak hasil awal tersebut dan diperkirakan akan mengajukan banding sebelum hasil akhir diumumkan.

putra dirgantara 2019-12-26
pemilu afghanistan

Ilustrasi proses pemilu boneka Afghanistan, 2005. (Foto: Wikimedia Commons)

GARDA NASIONAL, JAKARTA — Pemilu boneka Afghanistan dikabarkan diwarnai perselisihan dilansir dari kiblat.net yang merilis berita tentang polemik soal kecurangan yang mewarnai hasil pemilu boneka Afghanistan, 24 Desember.



Media berita islam itu memberitakan bahwa politik Afghanistan berada dalam polemik setelah saingan utama presiden boneka Ashraf Ghani, Dr. Abdullah Abdullah, menolak hasil awal pemilihan September seraya mengajukan ribuan bukti kecurangan tentang hasil awal tersebut.



Sementara itu, presiden boneka Ashraf Ghani diprediksi akan memenangkan pemilihan putaran kedua setelah berada di jalur kemenangan.



Pada pemilu boneka tersebut, Ashraf Ghani mengamankan 50,64% suara, sedangkan Dr. Abdullah Abdullah memperoleh 39,52% suara. Dr. Abdullah Abdullah menolak hasil awal tersebut dan diperkirakan akan mengajukan banding sebelum hasil akhir diumumkan.



"Kami ingin memperjelas sekali lagi.. bahwa tim kami tidak akan menerima hasil pemungutan suara curang ini kecuali tuntutan sah kami dipenuhi," kata pernyataan dari tim Dr. Abdullah, Ahad dilansir dari BBC News.



Menurut kanal berita barat itu, Dr. Abdullah menentang sekitar 300.000 suara dan pengumuman hasil akhir bisa memakan waktu berpekan-pekan. 



Pernyataan tersebut didasarkan atas pengalaman pemilihan presiden boneka terakhir lima tahun yang lalu di mana Ghani dan Dr. Abdullah terlibat dalam perselisihan hasil pemilu yang berlarut-larut yang menyebabkan ketidakpastian politik selama berbulan-bulan.



Dalam sejarahnya yang dilansir kiblat.net, putaran kedua pemilu boneka tersebut pada tahun 2014 digelar di tengah keluhan kecurangan besar-besaran. Pada akhirnya, Ghani menjadi presiden boneka dan berbagi kekuasaan dengan Dr. Abdullah setelah kesepakatan yang diperantarai oleh penjajah AS.



Hal itu menjadi referensi bahwa perselisihan tersebut akan kembali terulang pada pemilihan boneka kali ini dan semakin membuktikan kebusukan pemilu yang dipaksakan penjajah AS tersebut yang hanya menjadi bualan penjajah dan tidak mencerminkan suara rakyat Afghanistan yang sebenarnya.



Sebagai bukti, kecurangan selalu terjadi selama pemilu boneka Afghanistan dan hal itu juga selalu terjadi di negara boneka manapun di mana pemilu diadakan di seluruh dunia. Ini semakin memperkuat argumen yang menyatakan bahwa demokrasi hanyalah bualan penjajah dan tikaman terhadap dunia Islam.



(pdlabs)



Leave a Comment




berita dunia islam terbaru