Internasional
Kanada Ancam Putus Kontrak Penjualan Alutsista ke Arab, Ini Alasannya
Kanada mengancam memutuskan kontrak kerja sama dengan Arab Saudi setelah kematian junalis Jamal Khashoggi.
Garda Nasional, Ottawa - Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau mengatakan pihaknya bisa membatalkan kontrak kerja sama pertahanan senilai miliaran dolar dengan Arab Saudi menyusul kasus pembunuhan Jamal Khashoggi yang terjadi beberapa waktu lalu, Rabu (24/10/2018).
Ottawa dan Riyadh telah menyepakati kesepakatan jual-beli senjata senilai US$11,4 miliar atau setara Rp173,9 triliun. Namun dalam kontrak itu tercantum salah satu klausul yang mengharuskan negara pembeli Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) Kanada bebas dari pelanggaran HAM.
"Dan jika mereka tidak mengikuti klausul-klausul itu, kami tentunya akan membatalkan kontrak pembelian tersebut," ujarnya seperti dirilis AFP.
Trudeau menambahkan, Kanada akan selalu membela penegakan hak asasi manusia, termasuk dalam menghadapi Saudi. Bahkan memberlakukan sejumlah regulasi khusus terkait penjualan senjata dan alat pertahanan militernya kepada pihak asing. Dimana dalam peraturannya, Ottawa melarang penjualan alutsista terhadap negara yang memiliki riwayat pelanggaran HAM terhadap warga negaranya.
Kanada juga melarang setiap negara yang membeli peralatan militernya untuk menggunakan instrumen-instrumen itu terhadap warga sipil. Juga pada tahun lalu, Ottawa mengungkapkan keprihatinannya terhadap dugaan penggunaan kendaraan militer buatannya oleh Saudi dalam operasi 'penegakan hukum' di bagian timur wilayahnya.
Relasi Kanada dan Saudi juga sedang merenggang sejak beberapa bulan terakhir, terutama setelah Ottawa mengkritik penangkapan yang dilakukan Riyadh terhadap sejumlah aktivis.
Saudi menganggap kritikan Kanada tersebut bentuk campur tangan terhadap urusan negaranya. Akibat cekcok itu, Saudi mengusir duta besar Kanada di Riyadh dan memanggil utusannya di Ottawa. Saudi bahkan membekukan sejumlah kerja sama perdagangan antara kedua negara.
Kasus Khashoggi juga disebut bisa memperdalam selisih pendapat antara Kanada dan Saudi, terutama soal penegakan HAM.
Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland, bahkan menganggap pengakuan Saudi terkait kasus pembunuhan Khashoggi tidak kredibel dan menuntut penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap insiden tersebut.
alutsista

