Kamis, 21 Oktober 2021

nasional


OTT Edhy Prabowo: Demokrasi Gagal Ciptakan Pemerintahan yang Bersih

OTT Edhy Prabowo atau Operasi Tangkap Tangan (OTT) Edhy Prabowo oleh penyidik KPK menjadi berita yang menarik di berbagai media nasional beberapa pekan terakhir.

putra dirgantara 2020-11-28
ott edhy prabowo

Ilustrasi korupsi atau suap. (Foto: PxHere)

GARDANASIONAL.COM, JAKARTA — OTT Edhy Prabowo atau Operasi Tangkap Tangan (OTT) Edhy Prabowo oleh penyidik KPK menjadi berita yang menarik di berbagai media nasional beberapa pekan terakhir. Keberhasilan penyidik KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan banyak mendapat apresiasi dari masyarakat setelah beberapa waktu tidak ada berita dan prestasi baru dari lembaga antirasuah nasional tersebut.



Penangkapan terduga koruptor tersebut patut mendapat apresiasi dari masyarakat karena terduga koruptor adalah seorang politisi yang aktif menjabat sebagai menteri pada kabinet pemerintahan saat ini dan menjadikannya sebagai tangkapan kelas kakap sekaligus kredit prestasi baru bagi KPK.



Di sisi lain, keberhasilan operasi tangkap tangan tersebut juga mencerminkan keprihatinan publik terhadap sistem pemerintahan yang sedang berlangsung di negeri ini yang menyiratkan pemerintahan yang bobrok, tidak bersih, busuk dan penuh dengan persekongkolan jahat antara penguasa dengan pengusaha.



Inilah fakta miris yang terjadi di Indonesia: sistem demokrasi yang diterapkan ternyata hanya menghasilkan penguasa yang korup dan pengusaha yang culas. Negeri yang katanya negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini gagal memberantas praktek korupsi dan bahkan tak mampu memilih para pejabat yang bersih di dalam pemerintahannya.



Gerakan antikorupsi yang telah lama dicanangkan sejak era reformasi dan lembaga KPK dibentuk ternyata tidak membuat negeri ini menjadi lebih bersih dari korupsi. Berulang-kali terjadi operasi tangkap tangan dan berulang-kali pula pejabat pemerintah yang masuk tahanan karena tersandung kasus korupsi, seolah tiada habisnya.



Lalu, mengapa demokrasi hanya menghasilkan pemerintahan yang korup? Bagaimana orang-orang korup bisa terpilih dalam sebuah pemerintahan demokratis?



Hal itu disebabkan karena demokrasi tidak mengakui kedaulatan Allah Subhanahu wata'ala dan menyerahkan kedaulatan kepada orang banyak atau rakyat melalui sistem perwakilan. Orang-orang yang terpilih di dalam senat atau pemerintahan merupakan kehendak rakyat banyak atau perwakilannya.



Oleh karena itu, sangatlah wajar jika orang-orang yang terpilih tersebut tidak bersih karena mengikuti keinginan atau syahwat sebagian besar manusia. Padahal, di dalam Al-Qur'an sudah jelas dinyatakan bahwa jika kamu mengikuti keinginan sebagian besar manusia, maka mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.



Akibatnya, orang-orang yang terpilih di dalam pemerintahan maupun senat merupakan hasil dari syahwat sebagian besar manusia yang cenderung menyesatkan. Lalu, bagaimana bisa terpilih orang-orang yang baik dan jujur jika berasal dari syahwat sebagian besar manusia yang cenderung menyesatkan tersebut?!



Selain itu, sifat alami (nature) demokrasi itu sendiri yang berbiaya besar sehingga membuka celah persekongkolan jahat antara politisi yang ingin menjadi penguasa dengan pengusaha yang ingin mengamankan bisnisnya dengan cara apapun, termasuk menyuap penguasa atau kongkalingkong dengan politisi yang ingin berkuasa.



Adanya persekongkolan jahat antara penguasa dengan pengusaha tersebut pernah diutarakan oleh Rizal Ramli, seorang ekonom senior yang juga seorang mantan menteri atau pernah menjadi menteri pada kabinet pemerintahan sebelumnya.



Dilansir dari suara.com (09/11), Rizal Ramli menyindir JK (Jusuf Kalla) dengan memberinya julukan "si Peng-Peng" di mana ia mengaitkannya dengan kekayaan JK yang begitu meroket ketika menduduki kursi wakil presiden.



“Pak @jokowi pernah tanya RR, bagaimana caranya jadi orang terkaya di Indonesia dengan cepat? Saya tidak mau jawab kecuali jelas kasusnya. Setelah Jkw jelaskan kasus Pejabat & kel-nya, baru saya jawab: “Gampang Mas, ‘bisnis kekuasaan’ atau ‘Peng-Peng’. Cepat,” cuit Rizal Ramli, menyertakan foto profil meroketnya bisnis Kalla Group, Senin (9/11/2020).



Istilah 'Peng-Peng' yang dicuitkan oleh Rizal Ramli tersebut merujuk kepada bisnis kekuasaan yang dilakukan oleh JK sehingga bisnisnya melesat dan kekayaan meroket dalam waktu singkat.



Konon, menurut data Globe Asia 2011, Kalla Group ada di urutan 107 di Indonesia dengan total kekayaan US$150 juta. Lima tahun kemudian, menurut data yang sama, kekayaan Kalla Group melonjak menjadi US$740 juta dan menduduki urutan 49 terkaya di Indonesia.



“Ketika Sang Peng-Peng (Penguasa-cum-Pengusaha) menjadi Wapres @SBYudhoyono, ring 1 SBY kesal kok kekayaan Sang Peng-Peng melesat hebat..yg tadi2nya biasa2 saja, tidak masuk orang terkaya, jadi masuk .. Itulah alasan, SBY tidak memilih Sang Peng-Peng jadi Wapres,” cuit Rizal Ramli.



Jadi, persekongkolan jahat antara penguasa dengan pengusaha memang bukan sekadar isapan jempol belaka dan OTT Edhy Prabowo semakin memperkuat fakta yang sudah menjadi rahasia umum tersebut.



Sebagaimana telah diketahui, Edhy Prabowo diciduk penyidik KPK saat turun dari pesawat All Nippon Airways NH835 yang mendarat di Terminal 3 bandara Soekarno-Hatta setelah pulang dari Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat (AS) (Republika.co.id, 27/11).



KPK telah menetapkan tujuh tersangka termasuk Menteri Edhy Prabowo, Staf khusus Menteri KKP Safri (SAF), Staf Istri Menteri KKP Ainul Faqih (AF), Pengurus PT ACK Siswadi (SWD), Direktur PT DPP Suharjito (SJT) serta Andreu Pribadi Misata (APM) dan Amiril Mukminin (AM).



Maka, sangatlah pantas ketika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyindir pemerintah dengan pose sedang membaca buku How Democracies Die karena Bung Anies sangat jeli melihat persoalan, bahwa cepat atau lambat demokrasi memang akan segera mati.



Bukan karena tekanan dari luar, melainkan karena demokrasi itu sendiri mengandung fasad (kerusakan) yang lambat laun akan menggerogoti sistem demokrasi itu sendiri sehingga terjadi pembusukan dan akhirnya mati secara perlahan.



(pdlabs)



Leave a Comment



euforia emas
berita dunia islam terbaru