Rabu, 29 April 2026

Nasional


Tangkal Radikalisme, Santri Harus Jadi Agen Perdamaian NKRI

Santri tidak hanya melakukan dakwah di masjid dan pesantren, tetapi juga bisa menjadi agen perdamaian untuk menjaga NKRI.

Irfan Mualim 2018-10-22
berita terbaru radikalisme

Maman Imanulhaq.

Garda Nasional, Jakarta - Di era milenial sekarang, santri jangan hanya berdakwah di pesantren dan masjid saja. Namun juga harus menjadi agen perdamaian dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari berbagai gangguan, terutama intoleransi, radikalisme, dan terorisme.



Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka, Maman Imanulhaq menjelaskan, santri memiliki prinsip 'Kaifa Nataqoddam duuna an natakholaa ‘an at-Turast' yang artinya bagaimana bisa bersaing dalam kompetisi global tanpa kehilangan jati diri yang ditempa nilai tradisi. Karena itu, dengan prinsip tersebut, meniscayakan setiap santri untuk menguasai isu-isu dunia modern, perangkat teknologi, dan mewarnai pergaulan dunia.



"Tapi meski demikian, santri harus tetap memegang teguh prinsip universalisme Islam seperti kejujuran, kesederhanaan, keterbukaan dan kerja keras," ujarnya di Jakarta, Senin (22/10/2018).



Bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN), Kang Maman sapaan akrabnya, mengajak para santri menjadikan HSN sebagai momentum untuk menguatkan komitmen santri dalam menjaga bangsa dan negara serta menagih hadirnya negara dalam peningkatan kualitas sarana prasarana pendidikan di pesantren.



“HSN adalah bentuk pengakuan negara atas kiprah kaum santri dan Pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Sekaligus menguatkan aspek kesejarahan pesantren yang sejak lama hadir di tengah masyarakat dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial bahkan politik,” terangnya.



Ia menegaskan, kemajuan teknologi informasi (TI) dengan hiruk pikuknya media sosial (medsos), tugas santri tetap berdakwah. Namun dakwahnya tidak hanya secara konvensional seperti yang dilakukan selama ini, tapi santri harus mampu mengaktualisasikan jihad-jihad kekinian. dakwah kekinian, dakwah online, ataupun dakwah milenial dengan mentransfer wawasan islam moderat dan kebangsaan dalam rangka menjaga NKRI.



“Santri millennial harus menjadi garda terdepan dalam jihad mengkampanyekan perdamaian dan melawan upaya-upaya perpecahan,” katanya.



Sejauh ini, lanjut mantan anggota Komisi VIII DPR RI, di kalangan para santri tengah tren jihad dengan menangkal hoaks (berita bohong), baik di dunia nyata maupun dunia maya. Di dunia nyata, para santri melakukan edukasi di tengah masyarakat tentang bahaya hoaks, gerakan literasi di kalangan anak muda dan da’i muda, sementara di dunia maya santri memproduksi dan menyebarkan konten berisi dakwah positif yang bernilai kebangsaan dan kemanusiaan.



“Dakwah santri itu mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, menciptakan harmoni bukan hegemoni, menolak radikalisme, apalagi terorisme,” tutupnya.



Leave a Comment




berita dunia islam terbaru