Nasional
Generasi Milenial Mudah Terpapar Radikalisme, Alasannya 'Keren'
Generasi milenial saat ini selalu bersikap reaksioner dan senang akan kekerasan. Terlihat dari reaksi kelompok muda di media sosial dalam menyebarkan berita hoax yang mudah memecahbelah bangsa.
GARDA NASIONAL, JAKARTA – Ahli sosiologi pemeritahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Zuly Qodir mengatakan, generasi milenial saat ini selalu bersikap reaksioner dan senang akan kekerasan. Hal ini terlihat dari reaksi kelompok muda di media sosial dalam menyebarkan berita-berita hoax yang mudah memecahbelah bangsa.
"Sangat reaksioner, berita yang dishare di grub WA tidak dicek langsung disebabkan, sangat reaksioner sekali," ujarnya di Malang, Jumat (19/10/2018).
Menurutnya, ada faktor yanng mempengaruhi sehingga para generasi milenial tersebut mudah bersikap reaksioner, yakni dikarenakan oleh proses pengajaran yang dilakukan oleh sekolah maupun perguruan tinggi yang sifatnya mendikte anak.
Ia menambahkan, anak muda sekarang sedang didrive dan diberi asupan indoktrinasi sehingga kemampuan mereka dalam menganalisis semakin dibatasi.
"Sangat reaksioner dan setuju berlaku kekerasan, karena tidak perlu analitik dan informasi jelas, yang diberikan kepada mereka pernyataan-pernyataan yang tidak butuh dikonfirmasi," jelasnya.
Sehingga dari survey yang dilakukan, ditemukan anak-anak dari kelas 3 SMA hingga semester 3 lebih menyukai informasi yang sifatnya pernyataan ketimbang narasi yang membutuhkan analisis lebih lanjut. Tidak adanya upaya konfirmasi dan analisis setiap informasi yang diterima, berimplikasi pada mudahnya seseorang terkapar paham radikalisme.
"Anak-anak muda kita lebih suka ustad google, karena tidak perlu konfirmasi kebenarannya, seolah-olah semua yang disabdakan ustad google itu benar," ujarnya.
Zuly melanjutkan, dari survey Badan Intelijen Negara (BIN) pada beberapa waktu lalu yang dilakukan di 15 provinsi menunjukkan 39 persen mahasiswa terkapar paham radikalisme. Sementara 41 sisanya sepakat dengan pendirian negara Islam Indonesia. Oleh karenanya, ia mengajak seluruh generasi muda agar selalu mengkonfirmasi dan menganalisis setiap informasi yang ada sehingga tidak muda terbawa arus global.
generasi milenial

