Nasional
Radikalisme Muncul Jika Pelajari Agama Hanya Secara Tekstual, Benarkah?
Mempelajari agama hanya sebatas tekstual, dapat memicu munculnya paham radikal.
GARDA NASIONAL, SEMARANG – Saat mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Bugen Al Itqon, Semarang, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat senantiasa saling menghargai adanya perbedaan, baik dalam hal agama, suku dan adat istiadat. Sebab toleransi antardaerah mutlak diperlukan.
”Aset terbesar kita adalah persatuan dan kerukunan. Bangsa ini bisa maju, kuat, jika menjaga persatuan,” katanya di Semarang.
Ia menambahkan, menjelang pemilihan bupati, gubernur maupun presiden, kerap menjumpai kabar bohong (hoax), bahkan fitnah terutama di media sosial. Hal itu bukanlah tata krama Indonesia dan bukan nilai-nilai islami. Untuk itu, Jokowi berharap masyarakat tidak mudah terpancing dengan isu bohong tersebut.
Sementara, Pengasuh Ponpes Bugen Al Itqon, KH Ubaidillah Shodaqoh menuturkan, kunjungan Presiden Jokowi untuk menyapa para santri, guru ngaji dan guru madrasah, terutama di lingkungan ponpes setempat.
”Terkait hari santri nasional, harapannya kualitas dan kuantitas pendidikan di pondok pesantren bisa ditingkatkan. Ponpes merupakan tempat untuk memahami ilmu agama,” ujarnya.
Rais Syuriyah PWNU Jateng itu menambahkan, pemahaman keagamaan akhir-akhir ini semakin dangkal dan instan, sehingga mengakibatkan timbulnya paham radikal. Radikalisme muncul salah satunya karena ilmu agama dipelajari secara tekstual.
"Mempelajari agama secara tekstual akan menjadikan pemahaman yang radikal. Pondok pesanten sebagai sumber islam moderat. Hubungan antaragama, negara dan rakyat akan menjadi masalah, kalau pemahaman agamanya bermasalah,” jelasnya.
radikalisme

