Kamis, 2 April 2026

Nasional


Waspada! Tingkat Opini Radikalisme di Kalangan Guru Muslim Tinggi

Hasil survei PPIM UIN Syarif Hidayatullah 2018, ada 63,07 persen guru memiliki opini intoleran pada pemeluk agama lain.

Irfan Mualim 2018-10-17
intoleransi dan radikalisme

Ilustrasi

GARDA NASIONAL, JAKARTA – Tingkat opini atau pandangan intoleransi dan radikalisme di kalangan guru muslim di Indonesia cukup tinggi. Hal itu didasarkan pada hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah 2018, yang menunjukkan sebanyak 63,07 persen guru memiliki opini intoleran pada pemeluk agama lain. Sedangkan guru yang mempunyai opini toleransi terhadap pemeluk agama lain mencapai 36,92 persen.



Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Saiful Umam mengatakan, hasil tersebut diperoleh berdasarkan alat ukur Implisit Association Test (IAT). Sedangkan hasil yang diperoleh dengan alat ukur kuesioner (eksplisit) pun tidak jauh berbeda, di mana sebanyak 56,09 persen guru memiliki opini intoleran pada pemeluk agama lain.



"Kedua alat ukur kita bisa melihat bahwa persentasinya sudah di atas 50 persen. Karena yang eksplisit membaca kuesioner, jadi itulah mengapa hasilnya berbeda," ujarnya di Jakarta, Rabu (17/10/2018).



Saiful mencontohkan salah satu bentuk opini intoleran di kalangan guru terlihat bahwa, sebanyak 56 persen guru tidak setuju non-muslim boleh mendirikan sekolah berbasis agama di sekitar mereka, dan sebanyak 21 persen guru tidak setuju bahwa tetangga yang berbeda agama boleh mengadakan acara keagamaan.



Dalam hal opini radikal dan intensi-aksi radikal menunjukkan bahwa 33 persen guru setuju untuk menganjurkan orang lain agar ikut berperang mewujudkan negara Islam, dan 29 persen setuju untuk ikut berjihad di Filipina Selatan, Suriah, atau Irak dalam memperjuangkan berdirinya negara Islam.



Oleh karena itu, menurut Saiful ada tiga faktor yang dapat dikaitkan dengan intoleransi dan radikalisme guru. Pertama adalah pandangan Islamisme. Kedua, aspek demografis dan ketiga adalah peran ormas dan sumber pengetahuan ke-Islam-an.



"Faktor Islamisme jadi salah satu variable penting terkait dengan intoleransi dan radikalisme guru," katanya.



Dengan hasil survei ini, ada beberapa rekomendasi yang disampaikan pihaknya. Salah satunya, kata Saiful, adalah meningkatkan kesejahteraan guru, karena dari hasil survei terlihat bahwa penghasilan guru berkorelasi dengan kecenderungan intoleransi dan radikalisme.



Sementara itu, Sekjen Serikat Federasi Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo merasa terkejut dan sedih atas hasil penelitian tersebut. Meski begitu, dirinya melihat ada objek yang diteliti kurang lengkap.



Heru menambahkan, visi dan misi dari FSGI adalah menciptakan pendidikan yang berkeadilan, juga mendukung keberagaman. Maka dari itu, hasil penelitian yang menunjukkan tingkat intoleransi dan radikalisme di kalangan guru muslim tinggi merupakan ancaman bagi Indonesia.



"Kondisi radikalisme pasif antara siswa dengan guru, lama kelamaan gurunya beranggapan ingin mengubah negara ini menjadi syariat Islam," imbuhnya.



Leave a Comment




berita dunia islam terbaru